Selasa, 14 Oktober 2014

PENGERTIAN INDIVIDU,KELUARGA DAN MASYARAKAT | SOFT SKILL | ALBAR ASWORO

PENGERTIAN IDIVIDU,KELUARGA DAN 

 MASYARAKAT




1) Pengertian Individu


Individu berasal dari kata latin, “individuum” yang artinya tak terbagi. Kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia sebagai keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan, demikian pendapat Dr. A. Lysen.

Individu menurut konsep Sosiologis berarti manusia yang hidup berdiri sendiri. Individu sebagai mahkluk ciptaan Tuhan di dalam dirinya selalu dilengkapi oleh kelengkapan hidup yang meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun.

1. Raga, merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama

2. Rasa, merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan

3. Rasio atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera.

4. Rukun atau pergaulan hidup, merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Rukun inilah yang dapat membantu manusia untuk membentuk suatu kelompok social yang sering disebut masyarakat

2) Pengertian Keluarga 

 
Ada beberapa pandangan atau anggapan mengenai keluarga. 
Menurut Sigmund Freud keluarga itu terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita. Lain halnya Adler berpendapat bahwa mahligai keluarga itu dibangun berdasarkan pda hasrat atau nafsu berkuasa.

 

Durkheim berpendapat bahwa keluarga adalah lembaga sosial sebagai hasil faktor-faktor politik , ekonomi dan keluarga.

Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan berpendapat bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itub untuk memuliakan masing-masing anggotanya.



3) Pengertian Masyarakat


Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi.

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.

Ada beberapa pengertian masyarakat :

a. Menurut Selo Sumarjan (1974) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan

b. Menurut Koentjaraningrat (1994) masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas yang sama.

c. Menurut Ralph Linton (1968)
 masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.

d. Menurut Karl Marx, masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi

e. Menurut Emile Durkheim, masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.

f. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut

Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang dapat menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas.


FUNGSI KELUARGA DALAM RUANG LINGKUP MASYARAKAT MASYARAKAT


Keluarga merupakan suatu wadah dimana orang-orang berkumpul dan membentuk suatu kesatuan , keluarga sebagai tempat orang-orang bisa bercerita, bercanda, dan melakukan aksi-aksi sosial lainnya. Biasanya kita mengenal keluarga sebagai saudara yang terikat secara lahiriah dan batiniah, seperti contoh : ayah, ibu, dan anak. Mereka disebut keluarga terikat secara lahiriah dan batiniah. Akan tetapi, dalam suatu masyarakat, keluarga memiliki peranan penting, mereka berkumpul dan membentuk suatu kelompok/komunitas yang akhirnya mereka anggap sebagai keluarga.
Keluarga juga merupakan suatu komunitas kecil sebelum menjadi masyarakat. Mereka dapat berkembang atau menghasilkan keturunan secara terus-menerus sehingga membentuk keluarga besar. Di Indonesia dikenal dengan penduduk yang ramah tamah dan memiliki sikap kekeluargaan yang kuat, gotong royong serta kepedulian terhadap sesama bangsa Indonesiadari Sabang sampai Merauke, dalam arti khusus keluarga dapat diartikan untuk membantu satu sama lainnya, tidak memiliki sikap ego, pelit, dan sombong, berarti keluarga bukan hanya diartikan sebagai satu perkumpulan kecil anggota masyarakat tetapi dapat diartikan sebagai sikap toleransi dan menjunjung tinggi kebersamaan yang kuat.

- Peranan keluarga dalam masyarakat Indonesia.

Dalam suatu wadah kecil dimana orang-orang dapat berkumpul dan berbagi cerita, keluarga memiliki peranan yang sangat kuat dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia sendiri. Kenapa saya ingin membahasnya? jawaban yang paling tepat adalah karena sebagian besar warga Indonesia memiliki jiwa sosial dan gotong-royong yang kuat. Sebagai salah satu contohnya dalam merayakan hari raya Idul Fitri dimana orang-orang/para tetangga saling bermaaf-maafan dengan keliling kampung tanpa adanya perbedaan kasta. Tetapi mengapa di negara kita ini masih banyak diskriminasi dan perselisihan antar suku, agama, dll, walaupun negara kita disebut sebagai negara yang bermatabat tinggi dan memiliki etika yang kuat? Karena masih adanya oknum-oknum yang menuntut kebebasan dan rasa ketidakpuasaan terhadap keadaan negara kita ini, meskipun kita negara besar tetapi kita memiliki tingkat kemiskinan penduduk yang tinggi sehingga dapat menimbulkan perpecahan suku dan pertikaian yang terjadi, ada juga yang ingin merusak persaudaraan di negeri tercinta ini, Jadi dengan kelurgalah kita dapat merasakan gotong-royong dan kebersamaan yang kuat sehingga membentuk rasa nasionalisme yang tinggi terhadap negara kita.

- Keluarga secara lahiriah dan batiniah.

Yang dimaksud keluarga secara lahiriah dan batiniah adalah kelurga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak, mereka dsebut keluarga kecil dalam kehidupan rumah tangga, biasanya seorang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sedangkan ibu yang mengurusi anak-anaknya dari semenjak kecil sampai lanjut remaja. 
Di dalam keluarga ini anak memiliki peranan sebagai penerus keluarga. seorang anak yang memiliki masa depan, dia harus melalui dunia pendidikan dimulai dari tingkat sekolah dasar sampai Sekolah menengah atas, dan bisa saja sampai Tingkat perguruan tinggi.
Setiap orang tua memiliki harapan pada anak-anaknya agar menjadi orang yang sukses dan bermanfaat positif bagi masyarakat dan negara.

- Orang tua menjadi tolak ukur keberhasilan anak

Bisa diambil contoh, jika orang tuanya berhasil mendidik anaknya dengan baik otomatis si anak akan menjadi orang yang sukses, jika gagal maka si anak akan gagal pula sebagai penerus keluarga yang berhasil. Ada pepatah yang mengatakan buah akan jatuh tidah jauh dari pohonnya, hal ini dapat diartikan sifat seorang anak tidak jauh dari kedua orang tuanya (dari segi keturunan).
Hal ini dapat dirubah dengan orang tuannya harus mendidik anaknya untuk menghindari sifat buruk orang tuanya dan si anak menjadi anak yang memiliki kepribadaian yang kuat dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Ada berbagai cara mendidik anak salah satunya dengan cara yang otoriter, Jadi setiap kemauan orang tuanya harus dituruti oleh si anak, serasa tidak adil dan keras. Tetapi kebanyakan dari mereka menjadi depresi dan memilih untuk tinggal dengan dunia pergaulan bebas akibat keegoiaan orang tuannya. tidak jarang pula lari ke narkoba dan free sex. Jadi dapat disimpulkan setiap orang tua memiliki cara berbeda dalam mendidik anak-anaknya menjadi orang yang sukses.

- Happy family dalam masyarakat

Setiap orang memiliki suatu tujuan dalam berkeluarga. Mereka menginginkan keluarga yang bahagia khususnya masyarakat. Dalam hal ini keluarga bahagia bukanlah diukur dari materi/uang dengan harta yang berlimpah akan tetapi keluarga yang memiliki rasa kasih sayang terhadap seluruh lapisan anggota kelurga khususnya dari seorang ibu.

Sedangkan fungsi keluarga dalam masyarakat secara khusus antara lain:
- Menjaga keharmonisan antar sesama.
- Membuat stabilitas terhadap seluruh aspek kegiatan masyarakat.
- Menciptakan suasana kebersamaan yang kuat
- Membantu sesama bagi yang memiliki kesulitan
- Mengatur perekonomian dalam masyarakat.
- memecahkan masalah secara bersama-sama



URBANISASI DI INDONESIA


Urbanisasi adalah suatu fenomena gerakan penduduk dari wilayah agraris (desa) ke wilayah industri (kota). Urbanisasi hampir terjadi di seluruh negara dan menjadi gejala yang global dan lumrah terjadi.
Di Indonesia urbanisasi mulai meningkat di era setelah kemerdekaan dengan munculnya pembangunan kota-kota besar khususnya di Pulau Jawa. Ada 2 faktor yang melandasi terjadi pola gerakan urbanisasi ini yaitu faktor penarik (pull factors) dan faktor pendorong (push factors).

1. Faktor penarik
Kota sebagai suatu wilayah industri dan pusat pelayanan jasa tentunya memberikan magnet tersendiri bagi masyarakat desa untuk hijrah dan mencari peruntungan. Beberapa hal yang menarik dari kota sehingga banyak orang rela meninggalkan desanya antara lain:
  • Upah kerja di kota lebih tinggi 
  • Kota banyak menyediakan lapangan pekerjaan mulai dari tenaga kasar hingga profesional
  • Fasilitas pelayanan sosial mudah didapatkan seperti pendidikan, kesehatan, perbelanjaan
  • Kota memiliki gaya hidup relatif bebas dibanding desa
  • Sarana transportasi mudah didapat
2. Faktor pendorong
Faktor pendorong berkaitan dengan kondisi di desa yang mengakibatkan masyarakatnya ingin pergi meninggalkan desa seperti
  • Kurangnya lapangan kerja
  • Upah di desa relatif rendah
  • Tidak tersedianya fasilitas pelayanan sosial di desa
  • Adat istiadat desa sangat mengekang dan membuat masyarakat tidak berkembang
  • Motif ingin mencari pengalaman

CONTOH KEGAGALAN DAN KEBERHASILAN URBANISASI 


KEGAGALAN

Dewasa ini, urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.
Urbanisasi merupakan salah 1 fenomena yang banyak menarik perhatian saat ini, karena arus urbanisasi yang tidak terbendung menjadi salah satu penyebab permasalahan baru di kawasan perkotaan.Urbanisasi yang berlebihan dapat menciptakan kawasan kumuh di perkotaan, meningkatnya pengangguran; karena penumpukan tenaga kerja yang tidak terlatih, hingga semakin meningkatnya sektor informasi yang tidak tertatah; dimana akan menambah masalah di perkotaan.Urbanisasi yang berlebihan akan melahirkan kota mega (mega-cities) dan terjadinya aglomerasi perkotaan (urban agglomeration) yang menimbulkan permasalahan-permasalahan baru, seperti polusi, kemacetan, dan dan menumpuknya kaum miskin yang bermukim di lingkungan kumuh dan bantaran sungai.Oleh karena itu, pembangunan perkotaan harus memperhatikan dan mempertimbangkan masalah ini!

KEBERHASILAN

Urbanisasi sebagai Indikator keberhasilan Pembangunan Nasional
Serta Dampaknya terhadap Pertumbuhan Perekonomian
Menurut J.H. De Goede urbanisasi dapat diartikan sebagai proses pertambahan penduduk pada suatu wilayah perkotaan (urban) ataupun proses transformasi suatu wilayah berkarakter pedesaan (rural) menjadi urban.
Di Indonesia, urbanisasi sudah dilakukan mulai tahun 1970-an pada saat pembangunan sedang gencar digalakan terutama di kota-kota besar.
Meningkatnya arus urbanisasi didorong oleh beberapa faktor yaitu :
(1) Perbedaan dan tidak meratanya pembangunan seperti pembangunan infrastruktur di pedesaan yang masih minim dibandingkan dengan perkotaan.
(2) Semakin baiknya sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan desa dengan kota.
(3) Pertumbuhan industri di kota-kota besar yang memberikan peluang kerja bagi warga pedesaan.
Namun ekonomi adalah faktor utama terjadinya urbanisasi, karena terjadi perubahan struktural dalam sektor mata pencaharian. Hal tersebut diperkuat dengan banyaknya penduduk desa yang meninggalkan pekerjaannya di bidang pertanian, berarlih bekerja menjadi buruh atau pekerja kasar yang bersifat non agraris di perkotaan.
Indonesia yang merupakan Negara berkembang, tengah menghadapi masalah urbanisasi dengan banyaknya warga pedesaan yang merantau ke ibu kota.
Urbanisasi bukanlah hal yang salah, akan tetapi urbanisasi akan menjadi masalah apabila banyaknya penduduk urban tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka dapatkan.
Faktanya, saat ini perantau yang banyak datang ke ibu kota Jakarta tidak mendapatkan pekerjaan yang layak, jaminan kesehatan yang minim, tempat tinggal yang berdesak-desakan, bahkan banyak perantau yang menjadi pemulung, gepeng, dan tinggal di pinggiran jalan ibu kota.
Adapun meningkatnya angka kriminalitas dan polusi lingkungan di daerah urban atau perkotaan menjadi masalah besar yang belum bisa terselesaikan.
Pembangunan yang berkelanjutan akan merencanakan pembangunan dengan memikirkan ruang untuk investasi masa depan, semisal dengan membatasi angka urbanisasi dengan memberdayakan masyarakat di pedesaan untuk pembangunan daerahnya masing-masing.
Secara logika, saat orang-orang desa banyak yang datang ke kota bahkan menetap di perkotaan, penduduk di pedesaan akan semakin berkurang, akibatnya tidak ada lagi pemberdayaan pertanian dan perkebunan karena lebih banyak dari warga desa yang memilih bekerja menjadi buruh di kota.
Menurut pandangan sosial, masyarakat desa yang sudah berpindah dan menetap di kota akan merubah secara keseluruhan gaya hidup mereka, menjadi lebih konsumtif, berkurangnya jiwa nasionalisme, gaya hidup yang konsumtif berpengaruh pada lunturnya rasa peduli terhadap lingkungan yang menyebabkan banyak pencemaran.
Akan tetapi dampak baik yang dapat diambil dari urbanisasi adalah penyerapan tenaga kerja yang membantu pemerataan pembangunan perekonomian, dengan syarat pembayaran upah yang layak dan sesuai standar yang diberikan, jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, yang pada nyatanya hal tersebut belum terjadi di Indonesia.
Kembali ditinjau dari rencana pembangunan yang berkelanjutan, dampak dari urbanisasi bagi pertumbuhan perekonomian di Indonesia akan berdampak baik ketika jumlah penduduk urban sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia, akan menjadi masalah apabila jumlah penduduk urban yang sangat banyak namun tidak tersedianya lahan dan lapangan kerja yang layak.

1TA04

10314723

ALBAR ASWORO

Jumat, 10 Oktober 2014

PERTUMBUHAN PENDUDUK | SOFTSKILL | ALBAR ASWORO


10314723 
1TA04

PERTUMBUHAN PENDUDUK DIDUNIA YANG TERJADI SAAT INI

Pertumbuhan penduduk yang menyebabkan terjadinya perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari sepanjang waktu. Pertumbuhan penduduk bisa berupa pertumbuhan positif yang berakibat pada bertambahnya jumlah penduduk, tetapi bisa pula berupa pertumbuhan negatif yang membawa konsekuensi berkurangnya penduduk suatu daerah. Dalam kenyataannya, pertumbuhan penduduk negatif sangat jarang terjadi di negara-negara berkembang. Sebaliknya, penduduk di negara berkembang biasanya bertambah dengan laju pertumbuhan yang relatif tinggi.
Dampak positif sekaligus negatif timbul akibat pertumbuhan penduduk. Dari sisi positif, pertambahan jumlah penduduk, apalagi jika diikuti dengan kualitas sumber daya yang baik, merupakan modal utama untuk melaksanakan pembangunan. Bagi daerah-daerah yang jarang penduduk, pertumbuhan penduduk akibat masuknya tenaga kerja yang berkualitas memberikan dampak positif berupa bertambahnya sumber daya manusia pelaksana pembangunan. Pada sisi lain, dampak negatif pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya permintaan layanan sosial dan ekonomi untuk memenuhi hak-hak dasar mereka yang jumlahnya meningkat. Peningkatan permintaan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan, misalnya, merupakan dampak negatif yang langsung dirasakan akibat pertambahan jumlah penduduk. Selain itu, pertambahan penduduk berpengaruh negatif terhadap daya dukung lingkungan.
Buku ini merupakan bunga rampai dari berbagai tulisan yang mengkaji dampak pertumbuhan penduduk terhadap kesejahteraan. Kesejahteraan mengacu pada terpenuhinya hak-hak dasar manusia, sebagaimana yang tercantum dalam hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya, termasuk hak untuk hidup di lingkungan yang aman dan sehat. Seluruh kegiatan penulisan buku ini dibiayai melalui anggaran DIPA dan para penulisnya adalah para peneliti Pusat Penelitian Kependudukan-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK-LIPI). Penulisan dilakukan dengan memanfaatkan data primer yang telah dikumpulkan dalam berbagai penelitian yang dilakukan oleh para peneliti PPK-LIPI selama beberapa tahun terakhir dan data sekunder yang relevan dengan topik tulisan yang diperoleh dati berbagai sumber.


NEW YORK, KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan, pertumbuhan jumlah penduduk dunia ternyata lebih tinggi daripada perkiraan dua tahun lalu. Revisi prediksi pertumbuhan tersebut memunculkan pertanyaan soal daya dukung alam dan sejumlah masalah lain.
Dalam laporan bertajuk ”Prospek Populasi Dunia: Revisi 2012” yang dirilis di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat (14/6), disebutkan, penduduk dunia akan naik menjadi 8,1 miliar jiwa pada tahun 2025 dari jumlah 7,2 miliar jiwa saat ni. Jumlah itu akan terus berkembang menjadi 9,6 miliar pada tahun 2050. Prediksi sebelumnya, penduduk dunia diperkirakan ”hanya” mencapai 9,3 miliar jiwa pada 2050.
Menurut laporan terbaru ini, pertumbuhan penduduk paling tinggi akan terjadi di negara-negara berkembang, dan lebih dari setengah penambahan jumlah penduduk dunia itu akan terjadi di Afrika. PBB memperkirakan, pada awal abad depan, populasi penduduk bumi bisa mencapai 16,6 miliar jiwa. Pertumbuhan penduduk terbesar akan terjadi di negara-negara miskin.
”Meski pertumbuhan penduduk di dunia secara keseluruhan telah melambat, laporan ini mengingatkan kita bahwa beberapa negara berkembang, terutama di Afrika, pertumbuhan penduduknya masih pesat,” kata Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial Wu Hongbo, Jumat (14/6/2013).
Menurut laporan itu, populasi Afrika bisa meningkat dari 1,1 miliar jiwa pada tahun 2013 menjadi 2,4 miliar jiwa pada tahun 2050, dan berpotensi menjadi 4,2 miliar jiwa pada tahun 2100. Pertumbuhan populasi yang lebih tinggi dari perkiraan semula itu memunculkan sejumlah pertanyaan soal daya dukung.
Organisasi World Population Balance menyatakan, sumber daya yang dimiliki planet Bumi saat ini idealnya hanya mampu mendukung sekitar 2 miliar orang dengan standar hidup di Eropa.
Majalah Scientific American pada 27 Oktober 2011 menurunkan laporan yang menyebutkan populasi yang semakin besar juga membutuhkan sumber daya lebih banyak, mulai dari air, pangan, mineral, hingga energi dan ketersediaan lahan untuk pertanian.
Direktur Divisi Populasi pada Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB John Wilmoth mengatakan, peningkatan populasi memang diproyeksikan akan menimbulkan tantangan. Namun, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan sumber daya, misalnya bahan pangan.
”Dunia telah sangat berpengalaman dalam menghadapi pertumbuhan penduduk yang cepat. Populasi dunia meningkat dua kali lipat antara tahun 1960 dan 2000. (Namun) suplai pangan dunia juga meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode yang sama,” kata Wilmoth.
Dua ekstrem
Menurut dia, yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya dua kondisi ekstrem. Di satu sisi, pertumbuhan penduduk cepat di negara-negara miskin. Sebaliknya, di negara-negara kaya, populasi penduduknya menurun dengan penduduk yang makin tua.
Jumlah penduduk di negara-negara paling terbelakang diperkirakan akan naik dua kali lipat dari 898 juta jiwa tahun ini menjadi sekitar 1,8 miliar jiwa pada tahun 2050. Adapun populasi negara-negara maju diperkirakan hanya bertambah dari 1,25 miliar pada tahun ini menjadi 1,28 miliar pada tahun 2100.
Wilmoth mengatakan, untuk mencegah timbulnya masalah itu, yang perlu dihindari saat ini adalah pertumbuhan cepat karena angka fertilitas terlalu tinggi, atau penuaan populasi yang cepat karena angka fertilitas terlalu rendah.
Menurut Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Julianto Witjaksono, Jumat, saat ini angka fertilitas total (TFR) Indonesia 2,6 dan mengalami stagnasi selama 10 tahun. Target menurunkan TFR pada tahun 2015 menjadi 2,1 tidak tercapai.
Menurut Julianto, target penurunan TFR itu akan disesuaikan secara bertahap, yakni 2,3 pada tahun 2015; 2,2 pada tahun 2020; dan 2,1 pada tahun 2025. Jika target tercapai, penduduk Indonesia diproyeksikan menjadi 281,5 juta pada tahun 2025 dan 330 juta jiwa pada tahun 2050.
Jika target tidak tercapai, jumlah penduduk Indonesia akan meledak dan menjadi beban perekonomian. Anggaran negara akan banyak terserap untuk penyediaan pangan dan layanan pendidikan dan kesehatan.
Terkait ketahanan pangan Indonesia, Deputy Country Director Oxfam Aloy Suratin mengatakan, Indonesia memiliki potensi untuk bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri secara swasembada.
Tantangan yang dihadapi Indonesia terutama pada ketersediaan lahan dan risiko dalam proses produksi pangan. Di samping itu, pangan lokal juga harus menjadi strategi utama dari swasembada pangan.(AP/AFP/JOS/ATK/ISW/DHF)

PERTUMBUHAN PENDUDUK ASIA YANG MENGHAWATIRKAN
      ASIA  merupakan benua terbesar di dunia. Oleh karena itu, 60% penduduk dunia berasal dari benua Asia. Dan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk Asia yang sangat tinggi yakni banyak nya negara-negara asia merupakan negara berkembang. Yang di khawatirkan dari bertambahnya jumlah penduduk Asia yakni ancaman krisis pangan dan terbatas nya stok energi. Pekerjaan tidak mudah bagi Asia mengingat 60 persen penduduk dunia ada di benua terbesar ini. Saat ini, lebih dari 800 juta orang di dunia tidak memiliki pangan yang cukup, dan 500 juta diantaranya ada di Asia.Lebih dari 60 juta anak pergi ke sekolah dalam kondisi lapar setiap hari, sebagian besar dari mereka ada di Asia. Sebanyak 25% anak-anak mengalami kerdil, dan 80% dari mereka hidup di 20 negara berkembang yang di antaranya ada di Asia.Permasalahan-permasalahan pangan tersebut menjadi perhatian para peneliti Asia yang berkumpul dalam The 5th joint simposium Asia Head of Research Councils (ASIAHORCs) di Bali. Para peneliti berbagi pengalaman riset bioresources untuk pangan, functional food, teknologi bioprocessing untuk pangan, rekayasa pangan, dan kebijakan Iptek bidang pangan yangmenjembatani kepentingan politik dan investasi.Sebanyak 46 makalah disampaikan, 16 poster, 100 peneliti, akademisi, praktisi, hingga pengambil keputusan hadir dari Jepang, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Filipina, Singapura, India, dan Vietnam hadir dalam simposium.Pemanfaatan bioteknologi Terus melonjaknya jumlah penduduk mendesak luasan lahan pertanian, menurut mantan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Pusat Siswono Yudhohusodo, harus dipecahkan dengan terobosan Iptek yang mampu menaikan produksi pangan di semua negara.Pemanfaatan benih dan teknologi maju dalam kegiatan produksi pertanian dan peternakan mulai dari hibrida, modifikasi genetika, kloning dan transfer embrio harus segera disosialisaikan ke banyak negara guna peningkatan produksi pangan.     Bayangkan saja 4 negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia 3 diantaranya bersal dari benua Asia yakni China dengan jumlah penduduk 1,2 milyar jiwa. Lalu India dengan 1 milyar dan Indonesia menempati peringkat 4 dunia dan ke 3 di Asia dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa saat ini.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN PENDUDUK
  • FAKTOR DEMOGRAFI

  1. Kematian
Kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
a.) Faktor pendukung kematian (pro mortalitas)
   Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini    adalah:
- Sarana kesehatan yang kurang memadai.
- Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
- Terjadinya berbagai bencana alam
- Terjadinya peperangan
- Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri
- Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.
b.) Faktor penghambat kematian (anti mortalitas)
    Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:
- Lingkungan hidup sehat.
- Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.
- Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
- Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.
- Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

Ada beberapa jenis perhitungan angka kelahiran yaitu:
  •  Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate/CDR )
Angka kematian kasar adalah yaitu angka yang menunjukkan jumlah kematian tiap 1000 penduduk tiap tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertentu. Ini dapat dituliskan dalam rumus :
  •  Angka Kematian Khusus Menurut Umur Tertentu (Age Specific Death Rate = ASDR)
Angka kematian khusus menurut umur tertentu dapat digunakan untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia tua atau usia lanjut angka ini tinggi, sedangkan pada kelompok usia muda jauh lebih rendah.
  •  Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate = IMR)
Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap seribu bayi yang lahir.
Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun.
Besarnya angka kematian bayi dapat dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk.
Pada umumnya bila masyarakat memiliki tingkat kesehatan yang rendah maka tingkat kematian bayi tinggi.
Selain perhitungan di atas sering dihitung pula angka kematian ibu waktu melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir.
Untuk angka kematian bayi ukurannya sebagai berikut:
- Rendah, jika IMR antara 15-35.
- Sedang, jika IMR antara 36-75.
- Tinggi, jika IMR antara 76-125.


2.  Kelahiran ( Natalitas )

Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukung kelahiran (pro natalitas)
Faktor-faktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain:
• Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
• Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
• Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
• Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua.
• Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.
Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.
Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
• Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
• Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi       laki-laki minimal berusia 19 tahun.
• Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan   hanya sampai anak ke – 2.
• Penundaaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
  Faktor – faktor penunjang tingginya angka natalitas dalam suatu negara antara lain :
>.Kepercayaan dan agama
   Faktor kepercayaan mempengaruhi orang dalam penerimaan KB. Ada agama atau              kepercayaan tertentu yang tidak membolehkan penganutnya mengikuti KB. Dengan              sedikitnya peserta KB berarti kelahiran lebih banyak dibanding bila peserta KB banyak
>.Tingkat pendidikan
  Semakin tinggi orang sekolah berarti terjadi penundaan pernikahan yang berarti pula             penundaan kelahiran. Selain itu pendidikan mengakibatkan orang merencanakan jumlah       anak secara rasional.
>.Kondisi perekonomian
  Penduduk yang perekonomiannya baik tidak memikirkan perencanaan jumlah anak                karena merasa mampu mencukupi kebutuhannya. Jika suatu negara berlaku seperti itu        maka penduduknya menjadi banyak.
>.Kebijakan pemerintah
   Kebijakan pemerintah mempengaruhi apakah ada pembatasan kelahiran atau                      penambahan jumlah kelahiran. Selain itu kondisi pemerintah yang tidak stabil misalnya         kondisi perang akan mengurangi angka kelahiran
>.Adat istiadat di masyarakat
Kebiasaan dan cara pandang masyarakat mempengaruhi jumlah penduduk. Misalnya nilai anak, ada yang menginginkan anak sebanyak-banyaknya, ada yang menilai anak laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan atau sebaliknya, sehingga mengejar untuk mendapatkan anak laki-laki atau sebaliknya.
>.Kematian dan kesehatan
Kematian dan kesehatan berkaitan dengan jumlah kelahiran bayi. Kesehatan yang baik memungkinkan bayi lebih banyak yang hidup dan kematian bayi yang rendah akan menambah pula jumlah kelahiran.
>.Struktur Penduduk
Penduduk yang sebagian besar terdiri dari usia subur, jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan yang mayoritas usia non produktif (misalnya lebih banyak anak-anak dan orang-orang tua usia).
Untuk menentukan jumlah kelahiran dalam satu wilayah digunakan angka kelahiran (Fertilitas). Angka kelahiran yaitu angka yang menunjukkan rata-rata jumlah bayi yang lahir setiap 1000 penduduk dalam waktu satu tahun.
Pengukuran Fertilitas tidak sesederhana dalam pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alasan sebagai berikut :
  • Sulit memperoleh angka statistik lahir hidup karena banyak bayi – bayi yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran, tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir mati.
  • Wanita mempunyai kemungkinan melahiran dari seorang anak ( tetapi meninggal hanya sekali )
  •  Makin tua umur wanita tidaklah berarti, bahwa kemungkinan mempunyai anak makin menurun.
  • Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja. Tidak semua wanita mempunyai kemungkinan untuk melakukan.
Ada dua istilah asing yang kedua – duanya diterjemahkan sebagai kesuburan, yaitu :
  •  Facundity ( kesuburan )
          Facudity adalah lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk                             mempunyai anak.
  •  Fertility ( fertilitas )
          Fertility adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang wanita atau sekelompok wanita.
1. Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate)
    Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:
    Angka kelahiran ini disebut kasar karena perhitungannya tidak memperhatikan jenis             kelamin dan umur penduduk, padahal yang dapat melahirkan hanya penduduk wanita.
2. Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age Specific Fertiliy Rate = ASFR )
    Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:
    Dengan rumus tersebut kita dapat mengetahui kelompok umur mana yang paling banyak     terjadi kelahiran.
3. Migrasi
    Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat lain.         Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan       penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal           yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara      saja.
Faktor-faktor terjadinya migrasi, yaitu :
1. Persediaan sumber daya alam
2. Lingkungan social budaya
3. Potensi ekonomi
4. Alat masa depan
Perlu diketahui bahwa usia 15 – 49 tahun adalah usia subur bagi wanita. Pada usia itulah wanita mempunyai kemungkinan untuk dapat melahirkan anak.Kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
a.) Faktor pendukung kematian (pro mortalitas)Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah:- Sarana kesehatan yang kurang memadai.- Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan- Terjadinya berbagai bencana alam- Terjadinya peperangan- Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri- Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.
b.) Faktor penghambat kematian (anti mortalitas)Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:- Lingkungan hidup sehat.- Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.- Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.- Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.- Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.Ada beberapa jenis perhitungan angka kelahiran yaitu:
 Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate/CDR )Angka kematian kasar adalah yaitu angka yang menunjukkan jumlah kematian tiap 1000 penduduk tiap tahun tanpa membedakan usia dan jenis kelamin tertentu. Ini dapat dituliskan dalam rumus 
: Angka Kematian Khusus Menurut Umur Tertentu (Age Specific Death Rate = ASDR)Angka kematian khusus menurut umur tertentu dapat digunakan untuk mengetahui kelompok-kelompok usia manakah yang paling banyak terdapat kematian. Umumnya pada kelompok usia tua atau usia lanjut angka ini tinggi, sedangkan pada kelompok usia muda jauh lebih rendah.Rumusnya
: Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate = IMR)Angka kematian bayi adalah angka yang menunjukkan jumlah kematian bayi tiap seribu bayi yang lahir.Bayi adalah kelompok orang yang berusia 0-1 tahun.Rumusnya:Besarnya angka kematian bayi dapat dijadikan petunjuk atau indikator tingkat kesehatan dan kesejahteraan penduduk.Pada umumnya bila masyarakat memiliki tingkat kesehatan yang rendah maka tingkat kematian bayi tinggi.Selain perhitungan di atas sering dihitung pula angka kematian ibu waktu melahirkan dan angka kematian bayi baru lahir.Untuk angka kematian bayi ukurannya sebagai berikut:- Rendah, jika IMR antara 15-35.- Sedang, jika IMR antara 36-75.- Tinggi, jika IMR antara 76-125.2. Kelahiran ( Natalitas )Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukung kelahiran (pro natalitas)Faktor-faktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lai
:• Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu
.• Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
 • Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
 • Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua.
 • Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti natalitas), antara lain:
  • Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak
 .• Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi         laki-laki minimal berusia 19 tahun
 .• Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
  • Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan hanya sampai anak ke – 2.• Penundaaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.Faktor – faktor penunjang tingginya angka natalitas dalam suatu negara antara lain :

  1. Kepercayaan dan agamaFaktor kepercayaan mempengaruhi orang dalam penerimaan KB. Ada agama atau kepercayaan tertentu yang tidak membolehkan penganutnya mengikuti KB. Dengan sedikitnya peserta KB berarti kelahiran lebih banyak dibanding bila peserta KB banyak
  2. Tingkat pendidikanSemakin tinggi orang sekolah berarti terjadi penundaan pernikahan yang berarti pula penundaan kelahiran. Selain itu pendidikan mengakibatkan orang merencanakan jumlah anak secara rasional
  3. Kondisi perekonomianPenduduk yang perekonomiannya baik tidak memikirkan perencanaan jumlah anak karena merasa mampu mencukupi kebutuhannya. Jika suatu negara berlaku seperti itu maka penduduknya menjadi banyak.
  4. Kebijakan pemerintahKebijakan pemerintah mempengaruhi apakah ada pembatasan kelahiran atau penambahan jumlah kelahiran. Selain itu kondisi pemerintah yang tidak stabil misalnya kondisi perang akan mengurangi angka kelahiran
  5. Adat istiadat di masyarakatKebiasaan dan cara pandang masyarakat mempengaruhi jumlah penduduk. Misalnya nilai anak, ada yang menginginkan anak sebanyak-banyaknya, ada yang menilai anak laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan atau sebaliknya, sehingga mengejar untuk mendapatkan anak laki-laki atau sebaliknya
  6. Kematian dan kesehatanKematian dan kesehatan berkaitan dengan jumlah kelahiran bayi. Kesehatan yang baik memungkinkan bayi lebih banyak yang hidup dan kematian bayi yang rendah akan menambah pula jumlah kelahiran.
  7. Struktur PendudukPenduduk yang sebagian besar terdiri dari usia subur, jumlah kelahiran lebih tinggi dibandingkan yang mayoritas usia non produktif (misalnya lebih banyak anak-anak dan orang-orang tua usia).Untuk menentukan jumlah kelahiran dalam satu wilayah digunakan angka kelahiran (Fertilitas). Angka kelahiran yaitu angka yang menunjukkan rata-rata jumlah bayi yang lahir setiap 1000 penduduk dalam waktu satu tahun.Pengukuran Fertilitas tidak sesederhana dalam pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alasan sebagai berikut 


  •  Sulit memperoleh angka statistik lahir hidup karena banyak bayi – bayi yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran, tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau kematian dan sering dicatatkan sebagai lahir mati.
  •  Wanita mempunyai kemungkinan melahiran dari seorang anak ( tetapi meninggal hanya sekali )
  •  Makin tua umur wanita tidaklah berarti, bahwa kemungkinan mempunyai anak makin menurun.
  •  Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja. Tidak semua wanita mempunyai kemungkinan untuk melakukan.Ada dua istilah asing yang kedua – duanya diterjemahkan sebagai kesuburan, yaitu :
         a. Facundity ( kesuburan )Facudity adalah lebih diartikan sebagai kemampuan                            biologis   wanita untuk mempunyai anak.
         b. Fertility ( fertilitas )Fertility adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang wanita atau                  sekelompok wanita.

1.     Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate)Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:Angka kelahiran ini disebut kasar karena perhitungannya tidak memperhatikan jenis kelamin dan umur penduduk, padahal yang dapat melahirkan hanya penduduk wanita.
2.     Angka Kelahiran Menurut Kelompok Umur (Age Specific Fertiliy Rate = ASFR )Rumus yang digunakan untuk menghitung yaitu:Dengan rumus tersebut kita dapat mengetahui kelompok umur mana yang paling banyak terjadi kelahiran.
3.     iMigrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.Faktor-faktor terjadinya migrasi, yaitu :


  • . Persediaan sumber daya alam
  • . Lingkungan social budaya
  • . Potensi ekonomi4. Alat masa depanPerlu diketahui bahwa usia 15 – 49 tahun adalah usia subur bagi wanita. Pada usia itulah wanita mempunyai kemungkinan untuk dapat melahirkan anak.